CS_TRAVEL_@DenisaArum 3

foto @dennisaden28

cs_travel_@DenisaArum 1

foto @dennisaden28

Kebun Raya Bogor tersebut adalah bagian hutan buatan dan taman buatan yang telah ada sejak dahulu kala. Hutan buatan itu dibuat karena untuk menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat untuk menjaga  macam-macam koleksi tanaman yang langka. Hutan tersebut lalu dibiarkan setelah Kerajaan Sunda yang kalah dari Kesultanan Banten, hingga Gubernur Jenderal Belanda membangun rumah peristirahatan di dalam hutan tersebut di dalamnya pada pertengahan abad ke-18.

Pada awal 1800-an Gubernur Jenderal yang berasal dari Belanda, yang tinggal di Istana Bogor dan memiliki antusias besar dalam botani, tertarik mengembangkan halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik. Dengan bantuan para ahli botani, dia menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik. Inilah awal mula terbentuknya Kebun Raya Bogor sekarang.

Memang kenyataannya tidak dapat ditepis jika orang-orang atau masyarakat mengatakan Kebun Raya Bogor adalah salah satu tempat wisata yang terkenal di kota hujan ini. Baik orang dalam negeri maupun luar negeri kerap terlihat berlalu lalang di Kebun Raya Bogor untuk berwisata. “Udaranya masih bersih, kendaraan bisa masuk dan bisa dipakai untuk olahraga” kata salah satu pengunjung lokal asal Bogor yang saya wawancarai disana. Namun emang adapun orang yang belum mengetahuinya, bahwa Kebun Raya Bogor menyimpan wawasan yang sangat luas di dalamnya.

Adapun salah satu sumber wawasan yang terdapat di Kebun Raya Bogor yang juga terkenal karena pemeliharaan bunga bangkainya ini adalah Gedung Konservasinya. Gedung yang terletak di sebelah Pintu utama Kebun Raya Bogor dan tepat berseberangan Departemen Kehutanan ini terdiri dari 4 lantai. Lantai paling bawah merupakan basement, yang kurang begitu dipakai. Lantai bawah gedung berwarna putih bersih ini ditempati oleh perpustakaan yang bertempat di bawah Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor.

Sangat disayangkan karena banyak orang tidak mengetahui ada perpustakaan di dalam Kebun Raya Bogor ini, padahal masyarakat umum bisa mendapatkan banyak informasi dan ilmu pengetahuan secara gratis di sini. Namun karna ketidaktahuan masyarakat mengenai keberadaan perpustakaan ini bukan karena salah mereka, tapi juga karena pihak Kebun Raya Bogor yang kurang membuka diri terhadap umum. Ditutupnya gerbang yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini membuat masyarakat berpikir bahwa gedung ini memang bukan untuk umum, begitu juga dengan perpustakaannya.

Tentunya jika ingin menghidupkan kembali gedung yang dulunya kantor kebun raya bogor ini, harus disertai dengan sikap yang optimis pula. Gerbang yang menutup Gedung Konservasi ini sebaiknya dibuka agar lebih dikenal oleh umum, sehingga wawasan yang disimpan dalam perpustakaan ini dapat disebarluaskan pada masyarakat dan para pelajar. <<[@dennisaden28, foto @dennisaden28]